Kupasan #5: Aku dan Perjalananku

Hola!

2 tahun ngga pernah update, banyak hal terjadi dan butuh proses mencerna segala perasaan yang nano-nano. Siapa sangka sosok deya yang penuh keraguan sampai juga pada gelar "dokter umum"nya dan sudah internship jalan bulan 3 ke 4. 

Di tahun ini, krisis identitas selalu muncul, di setiap keputusanku, di setiap pilihanku. Sudah kumantabkan hati bahwa selama internship, aku akan fokus mencari passion PPDS-ku yang Puji Tuhan selalu tampak seperti didukung oleh Yesus. Dengan awal kejadian dimana kedua orang tuaku sangsi akan pernyataanku. Di lain sisi, Pakdhe Suryo dan (almh.) Budhe Sum malah sangat mendukung bahkan membantu mempersuasi mereka —terutama ayahku, sang pemimpin keluarga.

Niat hati hanya ingin memusatkan perhatian pada hal meraih mimpi jurusan itu, mulai dari menentukan simposium apa saja yang bisa kuikuti, opsi pilihan kerja bila aku memilih jurusan itu, hingga menjalin relasi dengan sesama dokter umum yang ingin ikut itu. Namun, secara tak terduga, Tuhan sepertinya ingin menguji aku. Bisa-bisanya terbersit di pikiran untuk menaruh perhatian selain dari mengejar impianku itu. 

Betul, lawan terbesar yang bersumber dari sifatku, perasaan mudah jatuh hati. Wkwkw. Dunia ini sungguh bercanda.

Titik mulainya memang murni karna aku penasaran sebab orang ini memiliki nama yang sangat "kristiani" sehingga muncul harapan aku akan mempunyai teman yang agamanya serupa, yaaa minimal sesama pengikut Kristus. Setelah bertemu, bukan hanya sekadar sesama anak Yesus, tapi sungguh seagama.

Di situlah aku mulai goyah. Bahkan, sempat ada fase aku merasa overthinking + jealous karna praduga ada satu teman ishipku lainnya (yang beda server) yang aku rasakan menaksir pria ini, apalagi mereka se-vibes dan jokes-nya saling nyambung. Tapi, tenang saja, aku tidak segegabah itu sekarang. Belajar dari pengalamanku 2022, aku sekarang berusaha menata perasaan dipandu dengan pikiranku. Ledakan sesaat ini membuatku menarik beberapa langkah untuk mundur sekejap, mengobservasi, dan menelusuri perasaanku.

Apakah aku sungguh tertarik dengannya?
Atau karna sudah lama sekali aku tidak menemukan lelaki jawa katolik yang soft spoken?
Atau hanya merasa kesepian saja?
Barangkali, hanya haus atensi?
Mungkin bisa juga aku jatuh pada ekspektasi pribadiku?

Bisa juga karna aku ingin memenuhi egoku melalui rasa "ingin dipilih", memimpikan bagaimana rasanya diinginkan oleh seseorang lawan jenis.

Wah. Kacau deh pokoknya. Hari-hari bikin story ig galau, curhat ke temen-temen isinya patah hati dan berpikir gimana caranya meng-handle perasaan. Namanya juga proses belajar itu seumur hidup 🤧🥲

Setelah menyadari pola pembicaraan dan interaksi antar anggota kelompok intershipku ini, untungnya logikaku lebih bisa take over pada beberapa situasi. Ya. Kubulatkan tekad, ini hanyalah cara Tuhan menguji, apakah aku betul-betul ingin mengambil cita-cita menjadi seorang spesialis ataukah aku ini masih mudah terlena oleh kesenangan sesaat (yang sebetulnya juga hanya dalam angan). Kini, akan kujadikan dia sebagai motivasi, sebab dia juga sedang sekuat tenaga mengejar impiannya.

Aku ingin mengesampingkan perasaan ini, walaupun belum tau bagaimana cara persisnya.
Mohon doanya ya ^^
Semoga Tuhan Yesus lancarkan dan kuatkan aku.

Akhir kata, terima kasih dan Tuhan memberkati kalian semua~ Have a blessed day!

Bukan tak percaya diri, karna aku tau diri. Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu, mengagumimu dari jauh. Aku menjagamu tanpa menjagamu, menyayangimu dari jauh.


Tulus -  Mengagumimu Dari Jauh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupasan #3: Rejected Confession (Part 1)

Kupasan #4: Kenapa ya?